Koran… Koran… Koran…
Koran… Koran… Koran…
Mungkin teriakan-teriakan penjual koran tidak begitu sering kita dengar akhir-akhir ini. Semakin majunya dunia informasi dan teknologi ( IT ), semakin menelan keinginan masyarakat untuk berinteraksi dengan “lembaran-lembaran hangat” ini. Untuk itu, butuh kreativitas berlebih dari para “kuli tinta” agar keberlangsungan koran tetap terjaga.
Lepas dari semua itu, koran tetap menjadi prioritas sebagian orang. Toh, walaupun mulai ditinggal, masih banyak yang berlangganan. Tapi, tentu saja tidak semua yang berlanggan, berlangganan juga membaca yang dilanggannya itu. Yang jadi pusat perhatian palingan cuma headline, berita olahraga ataupun berita entertainment dan selebritis.
Kolom-kolom inspirasi dan aspirasi sudah mulai ditinggal. Padahal wacana-wacana tersebut dapat menambah pemahaman, filosofi, kreativitas maupun semangat dalam menjalani hidup. Masyarakat cenderung lebih suka membaca hal-hal yang instan dan tidak banyak berpikir. Koran dibolak-balik cuma untuk mencari berita unik. (g mungkinlah… semua berita dalam koran berkategori unuk). Jika bertemu, fokus diseting, lalu mulut mulai komat-kamit membacanya.
Lain cerita dengan kolom iklan. Bagian ini selalu jadi perhatian beberapa kalangan. Walaupun, ujung-ujungnya hanya karena “butuh”, bukan karena nikmat dan ikhlas dalam membaca.
Semakin sering hal-hal di atas terjadi, koran jadi barang purbakala. Yang sama konvensionalnya dengan iklan-iklan mak erot dan saudara-saudaranya yang juga selalu menyajikan kata-kata besar, keras, kuat dan lain-lainnya.
Anak muda seperti akupun sama. Koran cuma jadi tempat membaca berita yang mengandung unsur-unsur penggerebekan hotel, penangkapan wts atau tertangkap basah.
Tapi… kalimat yang paling aku senangi di koran adalah Sebut Saja “Mawar”.

















